Permaisuri melayang berenang dalam samudra angkasa luas. Membelah langit biru, menyibak tirai awan putih yang halus dan lembut. Perjalanan ini aku lalui bersamamu beriring untaian lembut kasih sayang. Tetapi yang terjadi kini, segalanya menjadi sirna. Tertimbun awan hitam. Engkau mengatakan bahwa akulah permaisurimu yang berjalan beriringan dengan denyut nafasmu, berlari dalam gelombang riak jantungmu, berjalan mengalir dalam aliran darahmu. Ternyata hanyalah bayangan yang telah menjadi maya fatamorgana. Tiada lagi keindahan yang tertanam untuk terbit di pagi hari, lembut dimalam hari. Sirna semua menjadi sirna dan telah sirna.
Kini yang aku dapatkan hanyalah kekosongan hampa yang terasa mengisi. Aku tidaklah menjadi wanita dalam singgasanamu. Permaisuri dalam mimpimu. Penari pengiring gamelan langkah nadamu. Tetesan embun dalam taman bungamu. Udara pagi penggugah gerak langkah daun pepohonan.
Tetapi kenapa engkau tetap dengan tegar, berdiri di atas karang yang kokoh berkata dengan suara lantang menantang datangnya badai. Hanya akulah wanita dan permaisuri bagi dirimu, yang selalu menghiasi indahnya taman dengan untaian bunga – bunga mekar berseri, kepakkan kupu – kupu bergaun warna – warni, gemerincingnya sungai dialiri beningnya air. Berdiri kedinginan menggigil berselimut air hujan dan hawa dingin. Berpanas dengan keringat kering menguap di bawah payung sinar perkasa mentari.
Engkau kembali berkata, hanya akulah pena lembut yang menulisi lembaran – lembaran kertas putih hatimu. Hanya akulah yang dapat melukiskan dengan tinta warna – warni kegundahan dan kegelisahan hatimu. Hanya akulah yang dapat memadamkan dan mendinginkan bara api kemarahan dengan pelukkan tetes embun pagi. Hanya akulah yang dapat menghangatkan dinginnya hatimu, dengan belaian sayap – sayap kasih. Dan tiada lain yang tak habis dilukiskan untaian kata – kata indah pengisi perjalanan hidupmu dan tiada yang dapat untuk tergantikan dengan diriku.
Tetapi kenapa yang aku lihat dari suaramu kini, tergenggam ditanganmu terhunus sebilah mata pedang berkilau di depan mataku.
Tees’09’06
Kamis, November 20, 2008
TANGISAN DALAM TERIAKAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar