25 Agustus 2008
Kalau hitunganku benar, ini hari ke-10 istriku sudah terlambat “tamu bulanannya”. Begitulah, hari ini aku masih sibuk dengan jari jemariku menghitung periode tamu bulanan istriku. Aku pikir ini wajar, sebab sudah lebih dari 5 tahun sejak janji suci kami ucapkan di depan keluarga dan handai taulan, kami belum juga mendapatkan tanda-tanda akan kehadiran buah cinta kami berdua
Setiap bulan, memasuki periode datang bulannya istriku, hatiku selalu cemas. Tanpa sepengetahuan istriku, aku selalu menghitung sudah berapa harikah istriku terlambat sejak datang bulan terakhirnya. Mengapa aku tak bertanya lansung padanya ? Sebab aku tak mau menambah beban pikiran istriku. Kecemasan dan kegagalan menjadi istri yang bisa memberi keturunan pada suaminya pasti akan membuat dirinya putus asa. Dan kecemasan ini justru makin memperburuk kondisi psikologis kami.
Pada tahun pertama, mungkin kami masih bisa bersantai dan menganggap bahwa Allah SWT memberi kesempatan yang panjang bagi kami untuk menikmati indahnya bulan madu. Tapi memasuki tahun ketiga dan seterusnya, kecemasan mulai mnghinggapi kami berdua. Keluarga pun mulai bertanya tentang belum munculnya tanda-tanda kehamilan pada istriku. Meski cemas kami selalu menanggapinya dengan santai dan kadang diselingi dengan guyonan khas.
“Ya…kami masih ingin bulan madu terus.”
Memasuki tahun ketiga kami mulai mencari jalan sendiri. Kami pun mulai melakukan pemeriksan agar dapat diketahui sumber penyebabnya. Tak hanya istriku tetapi aku sebagai suami bertanggung jawab untuk mengikuti pemeriksaan agar bisa diketahui penyebabnya. Dan hasil pun kami sehat-sehat saja. Mungkin karena kami berdua adalah seorang pekerja yang mungkin menyebabkan kelelahan dan gangguan pada fisik dan pikiran kami. Dan pada tahun ketiga ini jugalah istriku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan. Dia berkeinginan untuk lelih berkosentrasi pada usaha kami untuk bisa mendapatkan momongan. Sebenarnya berat juga bagiku untuk menyetujui keputusan istriku tersebut. Bukan karena aku takut tak mampu menghidupi keluargaku dari gaji yang kuterima setiap bulannya. Tetapi aku sebelumnya telah memiliki rencana agar disaat kita masih belum dikarunia keturunan, aku ingin kita mengumpulkan banyak uang hingga pada saat istriku hamil, aku akan memintanya mundur dari pekerjaannya. Tetapi dengan cepatnya keputusan yang diambil sekarang, akhirnya aku pun menyetujuinya. Rasanya benar kata istriku, buat apa kita mengumpulkan banyak harta jika tak ada anak yang akan menikmati hasil kerja kita.
Sudah banyak jalan yang kita lalui. Dari yang jalur medis melalui dokter spesialis andrologi, pengobatan alternatif melalui ramuan tradisional hingga sebuah tradisi yang menyebutkan agar menyebar biji jagung di Mekkah sudah pernah kami coba. Hingga guru mengajiku setiap minggu yang baru pulang dari ibadah haji. Beliau membawakan kurma muda kering untuk dibuat juice agar bisa kami minum setiap hari selama satu minggu. Dan apa yang kami harapkan, semuanya belum memberikan hasil. Sengaja aku katakan “belum” sebab aku percaya Allah SWT Maha Pemurah dan Pengasih. Jika Dia menghendaki maka semua bisa terwujud. Kami selalu menganggap ini sebagai cobaan dari-Nya untuk menguji ketulusan dan ketabahan dari cinta kita berdua. Apakah cobaan ini bisa semakin mengukuhkan cinta kita atau justru bahtera ini retak di tengah gelombang. Tak henti-hentinya kami berdoa dan berusaha. Tapi aku hanyalah manusia biasa yang kadang dihinggapi rasa putus asa. Setelah beberapa kami mencoba terapi dari dokter dan belum membuahkan hasil membuat aku pun putus asa. Aku tak lagi mau mengikuti terapi. Buat apa aku melakukannya jika hasilnya tak sesimbang dengan uang yang sudah kuhabiskan. Istriku menyadari keputusasaan diriku. Memang istriku seorang yang pendiam. Dia tidak mau menanyakan perubahan sikapku. Sebagai istri dia hanya berdoa dan memohon petunjuk pada-Nya. Hingga suatu saat jalan pun ditunjukkan pada kami. Melalui seorang sepupu istriku yang rumahnya kebetulan dekat dengan kami, disarankan agar istriku meminum susu produk yang khusus merencanakan kehamilan. Kebetulan ia adalah seorang pegawai di sebuah departemen store terkemuka. Beberapa teman kantornya sudah mencoba dan semuanya berhasil. Tak ada salahnya mencoba pikir istriku. Akhirnya ia pun mencoba mengikuti kata-kata saudara kami.
Istriku baru menghabiskan 2 karton susu ukuran 200 gram atau bulan sejak ia diberitahu sepupunya tersebut. Dan hari ini tepat 10 hari istriku terlambat sejak datang bulan terakhirnya. Hati ini bercampur aduk perasaan antara gembira, takut dan cemas. Gembira karena ada harapan bahwa istriku hamil. Takut karena ini hanya berdasarkan hitunganku aja dan cemas ketika tiba-tiba datang bulannya datang. Sementara aku lihat istriku tampak tenang aja. Mungkin dalam hatinya ia berpikiran seperti aku juga. (BERSAMBUNG)
Sabtu, Desember 20, 2008
Berkah di Ambang Ramadhan I
Label:
Cerita Kecil Calon Bayi Kami
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar