12 April 2009
Alhamdulillah, tak terasa usia kehamilan istriku sudah mencapai 9 bulan. Bulan-bulan penuh kecemasan telah kita lalui. Dan saat inilah hari-hari penantian yang sudah lama kami inginkan.Hari-hari menunggu terasa berjalan sangat lambat. Rasanya aku ingin sekali melihat calon bayi kami, menggendong, memeluk dan menciumnya penuh kasih sayang. Perasaan bahagia yang terlalu ultra itu terasa sesak di dadaku.
Tetapi dibalik rasa bahagia jika terbesit kecemasan dan ketakutan kembali. Semuanya timbul tenggelam menjadi satu. Kecemasan akan kondisi istri yang sejak dulu begitu takut dengan yang namanya operasi dan rasa sakit. Serta bagaimana kondisi bayi kami saat persalinan nanti. Tapi aku berusaha untuk tenang. Menutupi kecemasan itu dengan banyak berdoa kepada-Nya semoga semua berjalan lancar. Satu yang pasti ketakutan dan kecemasan ini tidak boleh mengalahkan kebahagian kami yang tertunda selama lima tahun.
Selengkapnya...
Rabu, Mei 27, 2009
Minggu-minggu Menjelang Kelahiran
Senin, Mei 25, 2009
Idul Fitri Berdua di Rumah Saja
01 Oktober 2008
Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Suara takbir berkumandang sahut-menyahut dari masjid membelah langit pagi yang cerah. Seolah setiap masjid tidak mau kalah untuk terus mengagungkan asma Allah SWT.Istriku sudah bangun beberapa menit yang lalu. Sementara aku masih malas-malasan tidur di atas kasur yang hangat ini. Setelah menguatkan diri, akhirnya aku bangun juga dari rebahan. Tidak seperti biasanya, suasana rumah kami terasa sepi. Hanya suara air dari kamar mandi tempat istriku membersihkan dirinya. Hari ini adalah Idul Fitri pertama di mana mertuaku tidak ada di rumah. Beliau sudah mudik ke Tulungagung satu minggu sebelumnya. Sebab jika mendekati hari raya, beliau takut berdesakan di dalam kereta api atau bis. Alasan lainnya adalah sebab aku dan istriku sudah merencanakan tidak ber-Idul Fitri di Tulungagung tetapi cukup di Surabaya saja. Sebab aku juga tidak ingin istriku yang sedang hamil muda melakukan perjalanan jauh (meski itu hanya 4 jam dari Surabaya). Itu juga atas saran orang tua dan saudara kami sebab perjalan jauh akan cukup melelahkan bagi wanita hamil yang bisa berakibat pada janin. Tetapi hikmahnya, kali ini aku bisa merayakan Lebaran bersama keluarga besarku lebih lama. Sebab pada tahun-tahun sebelumnya, waktu berkumpul aku dan keluarga hanya sekitar 3-4 jam saja.
Aku jadi teringat saat Lebaran sebelumnya. Biasanya ibu mertua sudah menyiapkan perbekalan untuk dibawa saat kami mudik ke Tulungagung. Mulai makanan, pakaian, alas duduk bahkan terkadang peralatan dapur. Menurutku sih ribet banget sebab mobil yang kami sewa penuh dengan barang bawaan dan penumpang. Seperti biasanya sehabis menjalankan ibadah sholat ‘Id, aku mengajak istriku untuk bersilahturahmi ke orang tuanya terlebih dahulu dan dilanjutkan ke tetangga sekitar kami. Setelah itu kami meluncur ke rumah orang tuaku yang ada di Surabaya juga. Berkumpul bersama, makan nasi kuning yang selalu menjadi menu khas keluargaku setiap Lebaran dan silahturahmi ke tetangga serta rumah pamanku. Kami berada di rumah orang tuaku hingga pukul sebelas siang. Sebab setelah itu kami harus segera berangkat ke Tulungagung beserta rombongan mertua dan keluarga paman yang sudah menunggu di rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi saat kami berangkat ke lapangan tempat sholat ‘Id diadakan. Baju koko yang kubeli setahun lalu dan sarung biru pemberian mertua terasa pas kukenakan pagi ini. Sementara istriku memakai setelah hitam dengan jilbab senada. kami tidak berjalan sendiri, ada paman dan keluarganya. Mereka berencana mudik pagi ini dengan sepeda motor.
Tak berapa lama setelah kami tiba di sana, Sholat pun dimulai. Khusuk kami mengikuti rangkaian ibadah Idul Fitri, dari sholat ‘Id hingga khotbah berakhir. kami larut dalam suasana penuh kemenangan setelah sebulan berjuang melawan hawa napsu. Kami siap menjadi manusia baru yang bersih.
Selengkapnya...
Jumat, Mei 22, 2009
Apa Sih Ngidammu, Sayang ?
Oktober 2008
Seperti hal-halnya ibu hamil pada umumnya, ngidam adalah fase yang biasanya dialami pada masa-masa trimester awal. Orang awam bilang itu adalah permintaan atau keinginan si calon anak.Jika tidak dituruti, kelak si anak yang telah lahir akan suka ngiler, begitu kata mereka.
Kali ini sebagai suami yang baru pertama menanti kehamilan sang istri, aku sangat berharap bisa memenuhi permintaan istriku. Aku juga ingin merasakan suka dan duka perjuangan seorang suami untuk memenuhi permintaan itu. Aku berpendapat bahwa ngidam itu adalah wujud sayang dan perhatian suami terhadap istri dan ayah terhadap calon anaknya. Aku juga sering mendengar romantisme rekan-rekanku bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan barang yang diinginkan oleh istrinya. Mulai minta makanan pada tengah malam dan mencari buah-buahan yang tidak ada pada musimnya. Atau terkadang permintaan aneh yang kadang tidak masuk diakal. Meski berat, menurut mereka ada rasa kepuasan tersendiri jika bisa memenuhi keinginan sang istri. Dan itulah yang sangat aku harapkan, sebagai calon ayah akuingin bisa merasakan romantisme itu. Apalagi untuk calon anak kami yang pertama.
Sayang sampai saat ini, aku belum merasakan permintaan yang aneh-aneh dari istriku. Setiap hari aku selalu menunggu, permintaan apa yang diinginkan olehnya. Tapi semua itu tak pernah aku temukan. Hal yang kuingat adalahpermintaan untuk dibelikan keripik singkong khas Sumenep yang dulu sering kami beli. Istriku menginginkan itu pas aku hendak berangkat ke kantor. Beruntung toko yang biasa menjual letaknya tidak terlalu jauh dan memeiliki persediaan yang banyak. Selebihnya aku anggap permintaannya tidak ada yang aneh.
Kadang aku berpikir, kenapa nggak ada permintaan yang aneh yang ingin aku penuhi. Atau mungkin calon anak kami mengerti bahwa ayahnya seorang yang sibuk atau mengerti ayahnya seorang pemalas he.... Tapi aku tetap berharap suatu saat istriku ngidam dan aku akan berjuang untuk bisa memenuhi keinginan itu.
Selengkapnya...
Minggu, April 19, 2009
Renungan di Batas Bingkai Waktu
Sang Penguasa malam telah datang berkuasa dan sudah waktunya bagi para kehidupan siang untuk menuju mimpi-mimpi yang indah dan biarkanlah angan-angan yang ada semenjak tadi untuk melepaskan semua kekesalannya dan biarkanlah bidadari-bidadari mimpi yang datang untuk mengantarkan engkau untuk duduk disinggasana di istana mimpi-mimpi indah yang engkau telah harapkan.
Dewi fajar telah meniupkan sinarnya yang keemasan di ufuk timur sebagai pertanda datangnya pangeran fajar yang akan memudarkan semua mimpi-mimpi indah yang engkau rasakan untuk menyongsong sang penguasa siang yang menatap dengan tajam dan angkuh dan sambutlah dia dengan seraut wajah yang berseri karena dia pula yang akan menerangi jalan kehidupanmu untuk menuju cita-cita yang engkau impikan akan segera terlahir.
Para kehidupan siang telah melakukan tarian-tarian yang indah yang terlahir dalam impian-impian mereka termasuk engkau yang menarikan jari jemari dengan anggunnya yang diiringi senandung hembusan udara semilir dan biarkanlah semua impianmu itu keluar dalam kekangan keinginamu yang terpendam agar dia tidak lagi mengkristal dalam isi kepala yang menjadikan penghias angan angan.
Telah tiba bagi penguasa malam untuk berkuasa lagi dan tibalah juga bagi engkau untuk kembali menata semua kehidupan yang engkau jalani untuk dilakukan bila tiba saatnya, dan biarkanlah bagi engkau memasuki istana mimpi yang telah menantimu dan biarkanlah dia menampakan impian-impiannya baik buruk maupun indah karena kehidupan ada kalanya indah dan kadang buruk tetapi lebih sering keduanya.
Sudah tiba bagi engkau untuk menyambut sang penguasa pagi yang mengintip di balik awan pagi dengan senyum dan keceriaan dikarenakan kehidupan telah berputar lagi dan engkau mulailah untuk menari nari dengan jari jemari mu dalam menuangkan semua yang ada dalam impianmu dan teruslah dia mengalir seperti air sungai yang tanpa rintangan dalam memberi kehidupan.
Kehidupan siangmu telah berakhir dan sudah tibalah bagimu untuk menatap kembali kehidupanmu yang lain dan kegagalan serta keberhasilanmu adalah salah satu jalan menuju kepada suatu keberhasilan biarkanlah dia berjalan seperti angina yang melayang tanpa adanya suatu hambatan hanya engkaulah yang akan menentukan melalui mimpimu sendiri bersama dengan iringan derap langkah burung malam dalam mengarungi samudera mimpimu
Mentari sembunyi di balik awan pagi dan mereka telah membelah langit dengan kepakkan sayap-sayap untuk memudarkan semua mimpi -mimpi sepi dan segera meninggalkan gelap serta hati yang tenggelam dan suara angin pun kini ikut membelah kesunyian menghantarkan jiwamu pergi dan pudarkan mimpi-mimpimu untuk kepakkan sinar dan pagi engkau elukan dalam menyambut dunia bersama angan segera menghilang dalam mewujudkan mimpi-mimpi menjadi kenyataan bukan fatamorgana dalam menatap keceriaan terangnya jalan panjang dunia.
Engkau telah menari dengan jemari untuk mengiringi alunan nada dari suara pikiran jiwamu yang terpendam dan tumbuh bersemi selama engkau bermimpi selama engkau bermimpi dalam dekapan sang malam akan tetapi buah yang engkau dapat belumlah sesuai dengan apa yang engkau impikan tetapi inilah jalan kehidupan nyata untuk engkau selalu menatap ganasnya terik dengan langkah yang kekar.
Apapun yang telah engkau lakukan belumlah cukup untuk menutupi rasa hausmu terkadang engkau telah meneguk segelas tetapi belum juga hilang rasa dahagamu tetapi kemampuanmu sudah tidak mampu menampung lagi karena waktulah yang akan berbicara karena keinginan impianmu tidaklah bertepi seperti langit biru yang tak bertepi.
Mengikuti perjalanan mimpi-mimpimu dalam melangkah untuk menggapai mimpimu mimpimu yang tak bertepi membuatmu lelah dan menyisakan sejuta luka resah seakan mimpimu tak tergapai lelahlah engkau merasa untuk berjalan sejauh langkahmu tak engkau temukan tetapi ada pertemuan jawaban diujung langkahmu dibalik lelahnya langkahmu.
Para kehidupan siang telah berjalan dalam melakukan semua yang ada dalam pikiran-pikiran mereka untuk mewujudkan dalam bentuk kenyataan impian impian itu demikan juga dengan engkau dan biarkanlahMengikuti perjalanan mimpi-mimpimu dalam melangkah untuk menggapai mimpimu mimpimui yang tak bertepi membuatmu lelah dan menyisakan sejuta luka resah seakan mimpimu tak tergapai lelahlah engkau merasa untuk berjalan sejauh langkahmu tak engkau temukan tetapi ada pertemuan jawaban diujung langkahmu dibalik lelahnya langkahmu.
Tees’05
Selengkapnya...
Minggu, April 05, 2009
Perjalanan Cinta 2
Saat Api Membakar Jiwa Kita
Pernahkah Kau Rasakan Panasnya ?
Saat Salju Membekukan Hati Kita
Pernahkah Kau Rasakan Dinginnya ?
Saat Air Membasahi Tubuh Kita
Pernahkah Kau Rasakan Basahnya ?
Saat Jarak Memisahkan Diri Kita
Pernahkah Kau Rasakan Kerinduannya ?
Dan Saat Aku Membawamu Dalam Biduk Cinta
Pernahkah Kau Rasakan Bahagianya ?
Pernahkah Kau Rasakan Cintanya ?
Pernahkah Kau Rasakan Indahnya ?
Karna Ku Selalu Ingin Tahu,
How do you feel ……………………………………
Sajak hati untuk memperingati dua tahun Perjalanan Menuju Harapan Cinta
27-07-2005
dyk
Selengkapnya...
Selasa, Maret 31, 2009
Puasa Pertamaku tanpa Istri
01 September 2008
Aku bangun dari tidurku saat HP di kamarku berdering. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Kulihat istriku masih tertidur pulas di sampingku. Aku bangun tanpa menimbulkan bunyi. Pagi ini adalah sahur hari pertama Ramadhan.
Tidak seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku harus makan sahur sendiri. Istriku yang sedang hamil muda memang aku larang untuk menjalankan ibadah puasa tahun ini.
Pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, istriku selalu bangun lebih dulu. Menghangatkan sayur dan lauk untuk sahur kami. Menyiapkan nasi di piring untukku. Sebab aku tidak suka makan dalam kondisi nasi atau sayur panas. Kemudian menata semuanya di meja makan. Setengah jam mendekati Imsya’ baru istriku membangunkan aku untuk makan sahur. Tapi kini aku sendiri yang harus melakukan semua.
Tapi beruntunglah aku tinggal bersama ibu mertua yang baik dan penuh perhatian. Meski istriku tidak bisa menyiapkan makan sahurku, tetapi makanan untukku sudah tersaji di atas meja. Sebab ibu mertuaku yang telah menyiapkannya untuk mantunya yang baik ini he…
Tapi meski semua sudah disiapkan, rasanya beda makan sahur tanpa ditemani istri. Teman setia yang menemaniku paling-paling “Para Pencari Tuhan” yang tayang di SCTV.
Selengkapnya...
Kamis, Januari 01, 2009
Aku Panik, Kau Kuproteksi
Aku bersyukur bahwa ternyata istriku hamil juga. Dan penyakit panic berlebihan mulai menjangkiti aku. Sejak malam kunjungan ke dokter itu, aku mulai melakukan over proteksi terhadap istriku. Acara jalan-jalan yang selalu kami lakukan tiap hari Sabtu atau Minggu sementara aku hapuskan.
Tak ada lagi acara naik sepeda motor berdua untuk keluar rumah. Untuk kebutuhan sehari-hari sebisa mungkin beli di warung terdekat. Sedang untuk kebutuhan besar terpaksa aku sendiri yang berangkat ke supermarket. Aku bersedia melakukan ini semua, sebab aku tidak ingin membuat istriku lelah. Aku sudah mendengar pengalaman dari orang-orang bahwa minggu-minggu trimester pertama adalah saat paling rawan untuk terjadi keguguran. Hal itulah yang membuat aku takut. Aku takut apa yang kami tunggu selama ini akan pergi meninggalkan kami kembali.
Disamping itu pekerjaan harian di rumah seperti memasak atau membersihkan rumah, aku minta untuk dikurangi saja. Jika lelah, tidak usah memaksakan diri untuk memasak. Lebih baik beli di warung atau meminta tolong ibunya untuk memasak buat kami.
Dan yang paling utama adalah aku juga mewanti-wanti istriku untuk tidak naik turun tangga ke lantai dua. Biasanya istriku naik ke lantai dua untuk menjemur pakaian sebab di atas sinar matahari lebih terasa. Karena sekarang aku melarang dirinya naik ke atas maka sebagai gantinya kini untuk kali pertama aku harus membantu istriku menjemur dan membantu mencuci pakaian. Sebenarnya sejak masih bujangan aku sudah terbiasa mencuci pakaian milikku sendiri. Tetapi mengapa semenjak aku menikah, aku jadi nggak pernah lagi mencuci dan menyetrika pakaian. Meski di rumah kami sudah ada mesin cuci. Aku tahunya pakaian sudah rapi, siap dan tinggal dipakai. Ternyata kehamilan istriku membawa hikmah tersendiri bagiku. Mulai sekarang aku harus terbiasa lagi membantu istriku mencuci pakaian. Aku jadi sadar bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu ternyata sungguh berat disbanding kerja kantoran. Dari Subuh hingga malam tiba, seorang istri harus selalu siap untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan anggota keluarganya. Waktu istirahat mereka mungkin saat malam sudah tiba atau saat suami dan anak-anak mereka pergi bekerja atau sekolah.
Aku berusaha membuat istriku lebih santai dan nyaman di masa kehamilan awal. Tidak membuatnya lelah ataupun stress. Aku ingin memanjakan dirinya. Memenuhi segala kebutuhan nutrisi baginya dan calon bayi kami. Konfrontasi, konflik, pertengkaran dan perbedaan pendapat sebisa mungkin aku hindari. Aku harus lebih banyak mengalah kali ini.
Ketakutan dan kecemasan saat istriku hamil ternyata membuat diriku lebih cerewet dan banyak mengatur dibanding hari-hari biasa. Setiap pulang dari kantor, hal yang selalu aku lakukan adalah menanyakan kondisi istriku dan janinnya. Apa dirinya baik-baik saja atau terjadi sesuatu saat aku tidak ada di rumah. Juga kutanyakan bagaimana dengan kondisi kandungannya, apakah tidak ada masalah. Biasanya aku sedikit tenang saat aku mendengar jawaban “tidak” dari mulut istriku. Tak lupa masalah vitamin dan hormon yang diberikan dokter pun selalu aku tanyakan. Apakah tadi pagi dirinya tidak lupa untuk meminumnya.
Selain itu makanan yang dikonsumsinya pun tak luput dari perhatianku. Termasuk makanan-makanan yang “panas” seperti durian, nanas, tape, sayur ketewel dll. Semua makanan itu tak boleh dikonsumsinya dan aku memastikan itu. Itu semua atas anjuran orang tua dan saudara. Tak lupa aku juga mengingatkan istriku untuk banyak mengkonsumsi ikan laut dan minum susu. Kata orang, itu baik buat perkembangan otak janin kami. Sebab perkembangan otak janin mulai terbentu pada usia kandungan memasuki trimester pertama. Saat itu janin membutuhkan nutrisi yang baik dan bergizi untuk menunjangnya. Rupanya pertanyaan-pertanyaanku ini membuat istriku sedikit jengkel juga. Tapi aku cuek aja, sebab semua demi kebaikan dia dan janin kami. Aku tak mau waktu menunggu kami yang lama terbuang sia-sia.
Aku juga sempat bertukar pikiran dengan rekan kerjaku mengenai kepanikan yang terjadi pada calon ayah seperti aku. Rata-rata mereka juga sedikit panik tapi tidak se-estrem aku. Mereka juga menyarankan diriku untuk santai saja dan bersikap seperti hari –hari biasa saja. Sebab kalau banyak diatur maka bisa-bisa istriku yang stress.
Sekarang aku punya kegiatan baru yaitu browsing artikel-artikel tentang kehamilan. Artikel yang begitu banyak, aku cetak dan jilid rapi agar aku dan istriku dapat membacanya sebagai informasi pengetahuan. Aku juga meminta tolong teman kuliahku, Ning namanya untuk mengirim artikel kehamilan ke emailku. Kebetulan Ning yang sudah memiliki anak itu masih menyimpan artikel tsb. Dan ia juga pernah berjanji kalau istriku hamil, ia akan mengirimkannya padaku. Begitu banyak aku mengumpulkan artikel itu semata-mata agar aku punya sedikit ilmu dan siap menghadapi kehamilan istriku. Sayangnya, lebih banyak aku yang membaca artikel itu dibanding istriku. Ya, aku maklum sebab istriku memang tidak suka membaca. Aku sudah berusaha sedikit memaksa untuk membaca artikel itu tapi tidak pernah dihiraukan. Alasannya ia merasa lelah dan hanya ingin santai dan tiduran. Aku sendiri sempat heran. Aku sering melihat ibu-ibu muda yang sedang hamil seperti dirinya sangat senang sekali mencari atau berburu artikel tentang kehamilan. Tapi ini tidak terjadi pada istriku. Tapi tak apalah, yang penting istriku masih mau mendengar saat aku membacakan artikel itu untuknya he….

